Dengarkan Ruqyahnet Radio Online

Radio Server 1

Radio Server 2

wahai penuntut ilmu, agar selalu mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu, dan bersungguh-sungguh mengamalkan tuntutan dari ilmu tersebut. Karena ilmu itu ibarat pohon, sedang amal adalah buahnya. Seseorang belum dianggap berilmu selama belum mengamalkan ilmunya.Janganlah kamu melakukan suatu amal selama kamu belum mengetahui ilmunya. Begitu pula jangan pernah mempelajari suatu ilmu selama kamu masih meninggalkan amal. Gabungkanlah diantara keduanya meskipun hanya sedikit bagian yang kamu peroleh

Pengikut

Ensiklopedi Ruqyah

Ensiklopedi Ruqyah
Dapatkan Bukunya

Total Tayangan Halaman

IP
Abi Kiran. Diberdayakan oleh Blogger.

Istimewanya Puasa Ramadan: Ibadah Spesial dengan Ganjaran Langsung dari Allah

Written By Rudianto on Minggu, 22 Februari 2026 | 18.06

  


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

أَمَّا بَعْدُ

Para sahabat yang berbahagia, di mana pun Anda berada, terutama para shaimin dan shaimat, hamba-hamba Allah yang sedang melaksanakan ibadah puasa.

Syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala bahwa kita, orang-orang yang beriman ini, di dalam bulan Ramadan masih diberi kepercayaan oleh Allah untuk dapat menikmati karunia hidup. Ini merupakan karunia yang besar, karunia yang tertinggi. Karena dengan hidup dan badan yang sehat, kita dapat beramal, berbuat, berjuang, berjihad, thalabul ilmi (menuntut ilmu), dan lain sebagainya. Inilah yang saya katakan sebagai modal dasar dan modal pokok.

Nah, di bulan Ramadan inilah kita memperbanyak merenungkan diri. Karena bulan Ramadan pada prinsipnya adalah bulan untuk mengevaluasi diri, mengkalkulasi diri, bulan untuk meng-upgrade diri. Bulan Ramadan adalah bulan yang luar biasa, yang mempunyai banyak predikat nama yang tidak kita temukan pada bulan-bulan lainnya.

Bulan Ramadan itu disebut juga:

  • Syahrul Qur'an (Bulan Al-Qur'an)

  • Syahrul Ibadah (Bulan Ibadah)

  • Syahrus Shiyam (Bulan Puasa)

  • Syahrul Qiyam (Bulan Shalat Malam)

  • Syahrur Rahmah (Bulan Rahmat)

  • Syahrul Maghfirah (Bulan Ampunan)

Luar biasa!

Untuk itu, para shaimin dan shaimat, hamba Allah yang berbahagia, kita perlu mengetahui terlebih dahulu keistimewaan-keistimewaan bulan Ramadan ini. Karena tidak jarang orang malas melakukan suatu amal karena tidak mengetahui tujuan dan keistimewaan dari amal tersebut.

Puasa berbeda dengan ibadah-ibadah yang lain.

Ibadah-ibadah lain seperti salat, zakat, dan haji, pada hakikatnya kembali kepada diri kita sendiri. Salat untuk kita, puasa untuk kita, haji untuk kita. Namun puasa memiliki keistimewaan yang spesifik. Puasa adalah kado istimewa yang hanya kita persembahkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Di dalam sebuah hadis qudsi, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ، إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي، وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
"Kullu 'amalibni Adama lahu, illash shiyama, fa innahu li, wa ana ajzii bih."
Artinya: "Setiap amal anak Adam adalah untuk dirinya sendiri, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan memberi ganjarannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Memang ibadah-ibadah lain juga memiliki pahala dan ganjaran. Namun tidak ada satu keterangan pun yang mengatakan bahwa Allah langsung yang memberikan ganjarannya, kecuali puasa.

Di dunia ini kita bisa melihat perumpamaannya. Ada pertandingan dengan "Piala Gubernur", tetapi tidak selamanya gubernur yang menyerahkan piala itu; bisa saja diwakilkan oleh lurah atau camat. Namun ada saat-saat tertentu ketika pertandingan itu dianggap besar dan seru, maka piala gubernur itu akan diserahkan langsung oleh gubernurnya sendiri.

Demikian pula dengan puasa. Ia dianggap sebagai ibadah yang spesifik, yang istimewa. "Semua amalmu untukmu," kata Allah, "kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku, bukan untukmu. Dan Akulah kelak yang akan langsung memberi ganjarannya." Inilah di antara keistimewaan yang spesifik dari ibadah puasa Ramadan.

Maka rugilah orang-orang Islam yang tidak melaksanakan puasa secara baik dan benar. Benar menurut ketentuan syariat, dan baik menurut ketentuan sunah. Sehingga puasa itu benar-benar terasa menjadi benteng dan tameng bagi yang melakukannya. Baik sebagai benteng dari pengaruh nafsu angkara murka di dunia ini, maupun sebagai benteng yang menghalangi kita masuk ke dalam neraka jahanam. Na'udzubillahi min dzalik.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ، مَا لَمْ يُخْرِقْهَا بِكَذِبٍ أَوْ غِيبَةٍ
"Ash-shiyamu junnatun, ma lam yakhriqha bi kadzibin au ghibatin."
Artinya: "Puasa itu adalah perisai, selama ia tidak dirobek dengan kedustaan atau gunjingan (ghibah)." (HR. An-Nasa'i dan Ibnu Majah)

Puasa menjadi tameng selama tidak dicampuri dengan ucapan bohong dan bergunjing (membicarakan aib atau kejelekan orang). Sebaliknya, kita melatih diri untuk berbicara tentang kebaikan orang, tentang kelebihan orang, tentang kehebatan orang.

Di bulan Ramadan inilah kita mengevaluasi diri. Barangkali di bulan-bulan lain kita tidak sempat. Jadi jelas, apabila puasa dapat kita lakukan secara baik, ia akan menjadi benteng kita dalam mengendalikan kehendak nafsu.

  • Kita tidak mau marah, karena kita membentengi diri dari amarah.

  • Kita tidak mau bohong, karena kita menjaga puasa.

  • Kita tidak mau khianat, menipu, atau berbuat curang.

  • Kita tidak mau melihat maksiat.

  • Kita tidak mau mendengar hal-hal yang diharamkan.

Rasulullah bersabda: "Ash-shiyamu junnatun" — puasa itu adalah benteng untuk mengantisipasi kita dari mengikuti kehendak nafsu.

Namun puasa yang seperti apa? Puasa yang tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga puasa mata, puasa telinga, puasa hati, puasa bibir, dan puasa lidah.

Inilah yang oleh Imam Al-Ghazali disebut sebagai puasa khususil khusus (puasa khusus dari yang khusus). Imam Al-Ghazali membagi puasa menjadi tiga tingkatan:

  1. Puasa Umum (Shaumul 'umum)
    Puasanya orang awam. Yang penting tidak makan, tidak minum, dan tidak berhubungan suami istri. Namun mata masih liar melihat yang dilarang, telinga masih mendengar maksiat. Ini puasa yang sekadar lapar dan dahaga. Puasanya sah, tetapi ganjarannya bisa hilang karena tidak menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan pahala puasa. Kita tentu ingin menghindari puasa yang seperti ini.

  2. Puasa Khusus (Shaumul khusus)
    Puasanya orang-orang saleh. Selain menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, mereka juga menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa.

  3. Puasa Khususil Khusus (Shaumul khususil khusus)
    Puasanya orang-orang yang sangat dekat dengan Allah. Mereka tidak hanya menjaga diri dari hal-hal yang haram, tetapi juga menjaga hati dari segala hal yang melalaikan dari mengingat Allah.

Semoga kita termasuk golongan yang kedua dan ketiga. Bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi puasa kita benar-benar menjadi benteng yang melindungi kita dari perbuatan dosa dan maksiat.

Para hadirin sekalian, saya ucapkan selamat berbuka puasa dan selamat menjalankan ibadah salat Magrib. Semoga Allah merahmati dan menerima amal ibadah kita. Amin ya rabbal 'alamin.

آخِرُ الْكَلَامِ، وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ وَالْهِدَايَةُ
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Rudianto Abu Huna
18.06 | 0 komentar | Read More

Tiga Sunah Istimewa di Bulan Ramadan: Mengakhirkan Sahur, Memberi Makan Berbuka, dan Memperbanyak Sedekah

Written By Rudianto on Kamis, 19 Februari 2026 | 09.39


السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى هَٰذَا النَّبِيِّ الْكَرِيمِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ

أَمَّا بَعْدُ

Para sahabat yang dimuliakan Allah di mana pun Anda berada, para shoimin dan shoimat, hamba-hamba Allah yang berbahagia.

Dalam materi ceramah saya pada waktu yang lalu, saat menunggu datangnya beduk Magrib atau waktu berbuka, telah saya jelaskan secara rinci tentang hal-hal yang disunahkan dalam menjalankan ibadah puasa. Semuanya berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, bukan berdasarkan pendapat-pendapat orang, tetapi berdasarkan sunah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.

Di antara sunah-sunah itu telah saya jelaskan nomor satu sampai empat pada waktu yang lalu. Dan pada kesempatan ini, akan kita jelaskan sunah yang kelima dalam berpuasa di bulan Ramadan.

Kelima: Menta'khirkan Makan Sahur (Mengakhirkannya)

Yang dimaksud dengan menta'khirkan sahur adalah mengakhirkan waktu makan sahur hingga mendekati waktu fajar, kira-kira 15 menit sebelum masuk waktu Subuh. Ini merupakan waktu yang terbaik untuk sahur.

Berbeda dengan berbuka yang disunahkan untuk disegerakan, justru dalam sahur kita dianjurkan untuk mengakhirkannya. Meskipun barangkali kita akan merasa tergesa-gesa karena khawatir datangnya waktu imsak. Perlu dipahami bahwa imsak itu sebenarnya bukanlah batas akhir untuk makan, melainkan hanya sebagai tanda peringatan, seperti lampu kuning sebelum lampu merah.

Memang ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa setelah imsak tidak boleh makan. Namun saya sendiri hingga kini masih mencari tahu, dari hadis mana pendapat itu berasal dan kitab apa yang menjadi rujukannya.

Alhamdulillah, kita sebagai umat Islam memiliki pedoman yang jelas, yaitu Al-Qur'anul Karim dan sunah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Ternyata keterangan yang melarang makan setelah imsak tidak ditemukan dasarnya yang kuat. Yang jelas, batas waktu puasa adalah dari terbit fajar (masuk waktu Subuh) hingga terbenam matahari (waktu Magrib).

Tentang anjuran menta'khirkan sahur ini, terdapat sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا أَخَّرُوا السَّحُورَ وَعَجَّلُوا الْفِطْرَ
"An Abi Dzarrin radhiyallahu 'anhu qaala: Qaala Rasulullahi ﷺ: Laa tazaalu ummati bikhairin maa akhkharus sahura wa 'ajjalul fithra."
Artinya: "Dari Abu Dzarr radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: 'Senantiasa umatku berada dalam kebaikan selama mereka mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka.'" (HR. Ahmad)

Orang yang menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur berarti telah menjalankan sunah-sunah yang memperindah ibadah puasa Ramadan, memperbanyak ganjaran, dan menyempurnakan puasa karena mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.

Keenam: Memberi Makan untuk Berbuka kepada Orang yang Berpuasa

Yang dimaksud di sini adalah memberi makanan kepada orang yang berpuasa untuk berbuka, bukan memberi makan kepada orang yang tidak berpuasa.

Saat ini banyak terjadi hal yang memprihatinkan, di mana banyak orang menjual makanan dan minuman di malam hari dengan sengaja kepada orang-orang yang tidak berpuasa, padahal mereka adalah muslim. Idealnya, yang menjual dan yang membeli sama-sama perlu mendapat perhatian. Kecuali ada izin khusus dari pemerintah, misalnya untuk menjamin kebutuhan para turis atau orang non-muslim yang tidak berpuasa.

Di negara tetangga seperti Malaysia, ada toko-toko tertentu yang mendapat izin buka di siang hari Ramadan. Namun ketika ada orang yang ingin membeli makanan, mereka akan memeriksa kartu identitas. Jika terlihat agamanya Islam, mereka akan berkata, "Maaf, kami tidak berani melayani Anda makan, karena kami bisa ditutup oleh pemerintah dan toko kami bisa disegel jika memberi makan kepada orang Islam di siang hari Ramadan."

Alangkah indahnya apabila hal serupa dapat diterapkan di negara kita yang mayoritas penduduknya muslim. Malaysia tidak perlu berteriak bahwa mereka adalah negara Islam, tetapi yang penting bagi mereka adalah amal nyata dalam menghormati bulan suci ini.

Memberi makan kepada orang yang berbuka puasa adalah ibadah yang mulia. Namun memberi makan kepada orang yang tidak berpuasa di siang hari Ramadan dengan menjual makanan, itu jelas bukan nafkah yang halal. Bahkan dapat mendatangkan mudarat karena membantu kemaksiatan dan kerja sama dalam melanggar perintah Allah. Hal ini hukumnya syubhat dan sebaiknya dihindari.

Tentang keutamaan memberi makan berbuka, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ، غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
"Man faththara shaa-iman kaana lahu mitslu ajrihi, ghayra annahu laa yanqushu min ajrish shaa-imi syai-an."
Artinya: "Barangsiapa memberi makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti pahala orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun." (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Berarti orang yang memberi makan berbuka mendapatkan dua pahala: pahala memberi makan dan pahala seperti orang yang berpuasa.

Ketujuh: Memperbanyak Sedekah di Bulan Ramadan

Hendaklah kita memperbanyak sedekah di bulan Ramadan ini, karena sedekah di bulan yang mulia ini termasuk amal ibadah sunah yang sangat dianjurkan.

Sebagaimana telah dijelaskan dalam hadits-hadits sebelumnya, sedekah di bulan Ramadan memiliki keutamaan yang istimewa dan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Semoga Allah menerima puasa kita, memberikan petunjuk dan hidayah kepada kita, serta mengampuni dosa-dosa kita di bulan ampunan, bulan berkah, dan bulan yang istimewa ini. Semoga setelah kita menjalankan puasa sebulan penuh dan memasuki hari raya Idul Fitri nanti, kita benar-benar telah kembali kepada fitrah, yaitu kembali kepada kesucian.

Selamat berbuka puasa dan selamat menjalankan ibadah salat Magrib. Semoga Allah senantiasa merahmati kita semua.

آخِرُ الْكَلَامِ، وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ وَالْهِدَايَةُ، الْعَفْوَ مِنْكُمْ
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Rudianto Abu Huna
09.39 | 0 komentar | Read More

Ramadan Bulan Lipat Ganda: Keutamaan Sedekah, Memberi Makan Berbuka, dan Tadarus Al-Qur'an


السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

أَمَّا بَعْدُ

Para Sahabat yang dimuliakan Allah di mana pun Anda berada, terutama para shoimin dan shoimat, hamba-hamba Allah yang berbahagia.

Di saat kita menunggu datangnya waktu berbuka dan waktu salat Magrib ini, seperti biasa, alangkah baiknya kita mengadakan evaluasi tentang ibadah shaum yang kita lakukan. Agar benar-benar dapat menjadi puasa yang mempunyai bobot dan makna di sisi Allah, tidak sekadar lapar perut dan dahaga kerongkongan, tetapi benar-benar dapat mencapai sasaran dari puasa itu.

Di antara sasaran minimal dari puasa adalah menumbuhkan perasaan sosial yang mendalam di dalam lubuk hati kita. Bahwa ternyata dalam hidup ini, kita masih berbahagia meskipun lapar karena berpuasa. Kita berpuasa dengan sahur, kita masih berbahagia. Kita berpuasa dengan tidur di kasur yang nyaman, kita tetap berbahagia. Kita lapar karena puasa, tetapi kita yakin saat Magrib tiba, kita akan berbuka dengan makanan yang telah disiapkan, bahkan sejak Zuhur kolak sudah tersedia di atas meja.

Namun, alangkah menderitanya saudara-saudara kita yang ekonominya jauh di bawah kita, atau dapat kita katakan fakir miskin yang amat sangat. Mereka juga merasakan lapar seperti kita yang berpuasa ini, meskipun barangkali mereka tidak sedang berpuasa. Yang jelas, mereka tidak memiliki makanan untuk dimakan. Kalau kita berpuasa dengan sahur, mereka tidak punya sahur karena memang sudah lapar. Kita berpuasa dan menanti waktu berbuka, sementara mereka tidak memiliki apa pun untuk berbuka. Dengan apa mereka akan berbuka?

Maka minimal puasa itu dapat melahirkan dan menumbuhkan perasaan sosial kemasyarakatan seperti itu. Itulah puasa yang benar-benar sesuai dengan yang diperintahkan dalam syariat.

Para shoimin dan shoimat yang berbahagia.

Pada kesempatan yang lalu, kita telah membahas dan mengungkap keutamaan-keutamaan yang merupakan ibadah sunah atau ibadah tambahan dalam menjalani ibadah puasa. Di antaranya adalah:

Pertama: Memberi Makanan untuk Orang Berbuka

Sebagaimana telah saya jelaskan, memberi makanan kepada orang yang berbuka puasa memiliki keutamaan yang sangat besar. Orang yang memberi makan berbuka akan mendapatkan ganjaran seperti ganjaran orang yang berpuasa, tanpa mengurangi ganjaran orang yang berpuasa sedikit pun. Seperti orang yang mendapat ganjaran dua kali puasa.

Haditsnya telah saya sampaikan pada waktu yang lalu, yaitu sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ، غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
"Man faththara shaa-iman kaana lahu mitslu ajrihi, ghayra annahu laa yanqushu min ajrish shaa-imi syai-an."
Artinya: "Barangsiapa memberi makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti pahala orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun." (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad. Hadits shahih)

Kedua: Memperbanyak Sedekah di Bulan Ramadan

Hendaklah kita memperbanyak sedekah selama bulan puasa. Sebab tidak ada keutamaan yang lebih tinggi nilainya dibanding sedekah yang dikeluarkan pada bulan Ramadan. Sedekah di saat perut lapar, di saat mata mengantuk, di saat badan letih dan lesu, kemudian kita keluarkan sedikit nafkah atau harta yang kita miliki untuk disedekahkan kepada orang lain, maka Nabi memuji ibadah yang demikian sebagai amal yang sangat afdal dan utama.

Sebagaimana sabda beliau dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سُئِلَ النَّبِيُّ ﷺ: أَيُّ الصَّوْمِ أَفْضَلُ بَعْدَ رَمَضَانَ؟ قَالَ: شَعْبَانُ لِتَعْظِيمِ رَمَضَانَ. قِيلَ: فَأَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: صَدَقَةٌ فِي رَمَضَانَ
"An Anasin radhiyallahu 'anhu qaala: su-ilannabiyyu ﷺ: ayyush shiyaami afdalu ba'da Ramadhana? Qaala: Sya'banu lita'zhiimi Ramadhana. Qiila: fa ayyush shadaqati afdalu? Qaala: shadaqatun fii Ramadhana."
Artinya: "Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Nabi ﷺ ditanya, 'Puasa apakah yang paling utama setelah Ramadan?' Beliau menjawab, 'Puasa Sya'ban dalam rangka mengagungkan Ramadan.' Ditanyakan lagi, 'Sedekah apakah yang paling utama?' Beliau menjawab, 'Sedekah di bulan Ramadan.'" (HR. Tirmidzi)

Itulah sebabnya mengapa sebagian umat Islam menghitung hartanya sejak datangnya bulan Ramadan dan mengeluarkan zakatnya pada bulan ini, agar mendapat pelipatgandaan pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sedekah di bulan Ramadan dan di bulan lainnya berbeda nilainya. Yang tertinggi adalah sedekah di bulan Ramadan.

Jadi, di antara sunah-sunah puasa menurut hadis Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam adalah memperbanyak sedekah. Tentu sedekah tidak hanya berbentuk uang. Boleh berbentuk baju, celana, makanan, sarung, sandal, selendang, dan lain sebagainya. Yang penting, di bulan Ramadan ini kita memperbanyak sedekah. Karena sedekah di bulan Ramadan ganjarannya berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Secara khusus, Allah Subhanahu wa Ta'ala melipatgandakan ganjaran amal termasuk sedekah dengan lipat ganda yang banyak.

Maka rugilah manusia yang tidak berbuat apa-apa di bulan Ramadan, kecuali hanya lapar perutnya saja. Lebih rugi lagi dan lebih celaka orang yang tidak ikut berpuasa, tetapi ikut berhari raya. Hal ini perlu mendapat perhatian. Di bulan Ramadan ini, kita sebagai bangsa Indonesia wajib menghormati bulan yang mulia ini. Artinya, makan di siang hari tidak boleh dilakukan secara demonstratif yang dapat memancing kemarahan orang lain.

Memang orang yang melihat orang makan di siang hari Ramadan akan marah, dan itu wajar. Tetapi yang lebih patut disalahkan adalah orang yang makan di siang hari Ramadan dengan tidak tahu diri. Seringkali kita ribut hanya pada akibatnya—orang puasa marah—tetapi tidak melihat sebabnya. Sebabnya adalah karena ada orang yang berpesta pora makan di siang hari Ramadan di tempat-tempat umum. Inilah manusia yang sudah tidak tahu malu, manusia yang telah dicabut rasa malunya, dan mereka akan berbuat sewenang-wenang sekehendaknya, tidak ubahnya seperti binatang.

Islam bersabda:

الْحَيَاءُ مِنَ الْإِيمَانِ
"Al-haya'u minal iman."
Artinya: "Rasa malu itu adalah bagian dari iman." (HR. Bukhari dan Muslim)

Orang yang memiliki rasa malu menunjukkan bahwa ia masih memiliki iman.

Ketiga: Memperbanyak Membaca dan Mempelajari Al-Qur'an

Yang selanjutnya termasuk sunah di bulan Ramadan adalah memperbanyak membaca Al-Qur'an dan mempelajarinya dengan sebaik-baiknya. Menelaah maknanya, merenungi artinya, memahami asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya ayat), serta berjanji kepada Allah untuk mengamalkan apa yang terkandung di dalam Al-Qur'anul Karim dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana dipesankan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, ibadah yang tertinggi nilainya adalah membaca Al-Qur'an, dan menuntut ilmu yang tertinggi nilainya adalah mempelajari Al-Qur'an.

Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
"Khairukum man ta'allamal Qur'aana wa 'allamahu."
Artinya: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari)

Semoga kita di bulan Ramadan ini dapat memperbanyak bertadarus, membaca Al-Qur'anul Karim, yang merupakan amal istimewa dan nomor satu di sisi Allah.

Selamat berbuka puasa dan selamat menunaikan ibadah salat Magrib. Semoga Allah berkenan menerima amal ibadah kita. Amin Allahumma amin.

آخِرُ الْكَلَامِ، وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ وَالْهِدَايَةُ، الْعَفْوَ مِنْكُمْ
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Rudianto Abu Huna
09.10 | 0 komentar | Read More

Keberkahan Sahur: Antara Sunnah dan Kesehatan


 السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى هَٰذَا النَّبِيِّ الْكَرِيمِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ

أَمَّا بَعْدُ

Para para sahabat yang dimuliakan Allah di mana pun Anda berada, terutama para shoimin dan shoimat, hamba-hamba Allah yang berbahagia.

Marilah kita senantiasa mawas diri dan mengadakan evaluasi terhadap aktivitas kita di bulan Ramadan. Agar puasa kita tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan yang tanpa dampak, melainkan menjadi ibadah yang bermakna. Meskipun ada unsur rutinitas di dalamnya, namun puasa adalah kebutuhan yang mutlak dan urgen bagi kita dalam rangka belajar mengendalikan hawa nafsu yang selalu cenderung berlebih-lebihan.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Al-Qur'an surat Yusuf ayat 53:

إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي
"Innan nafsa la ammaaratun bis suu'i illa maa rahima rabbi."
Artinya: "Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku." (QS. Yusuf: 53)

Nah, salah satu latihan atau upgrading agar manusia dapat belajar mengendalikan hawa nafsu, maka Allah Syariatkan ibadah yang bernama puasa. Dalam bahasa agama disebut shaum atau shiyam, yang secara etimologi berarti al-imsak (menahan) atau bisa juga diartikan sebagai pembakaran. Maksudnya, di bulan Ramadan ini, semua dosa-dosa kita apabila kita mampu menjalankan puasa dengan benar, pada hakikatnya sama dengan kita membakar dosa-dosa tersebut.

Para shoimin dan shoimat yang berbahagia.

Dalam penjelasan saya sebelumnya, telah saya sampaikan tentang pentingnya menambah nilai-nilai sunnah dalam puasa kita. Di antaranya adalah menyegerakan berbuka, berbuka dengan kurma atau yang manis, dan berdoa ketika berbuka.

Dan yang keempat, yang tidak kalah pentingnya, adalah makan sahur di penghujung malam. Tujuannya agar menambah kekuatan saat menjalankan puasa. Itulah sebabnya orang yang makan sahur di bulan Ramadan diberi nilai tambah oleh Allah dengan sebutan sunnah. Karena dengan sahur, berarti ia turut menjaga kelestarian kesehatannya sendiri.

Orang yang berpuasa tanpa sahur, nilai ganjarannya tentu lebih rendah dibanding mereka yang melaksanakan sahur. Dari sisi kesehatan pun terlihat jelas, dengan makan sahur berarti kita mempersiapkan energi, menambah vitamin, dan memperkuat kondisi badan untuk menghadapi perjalanan ibadah seharian penuh.

Ibarat mobil yang akan berangkat jauh, misalnya ke Garut atau Tasikmalaya, ia mengisi bensin terlebih dahulu di dekat rumah. Itu sebagai persiapan agar kendaraan tidak berhenti di tengah jalan karena kehabisan bahan bakar. Tentu berbeda dengan mereka yang tidak sahur, badannya akan terasa lemas, letih, dan lesu, meskipun jika dipaksakan tetap bisa bertahan.

Namun perlu dipahami, bagi mereka yang tidak sahur karena ketiduran atau kesiangan, puasanya tetap sah dan ia tidak berdosa. Berbeda dengan mereka yang sengaja meninggalkan sahur dengan anggapan "sahur itu merepotkan" atau "makan malam jam 11 saja sudah cukup", maka ganjarannya tidak sebesar mereka yang bersusah payah bangun untuk makan sahur.

Mengapa dengan makan sahur ganjarannya lebih tinggi? Karena Islam adalah agama yang rasional dan up-to-date. Setiap sesuatu yang dicapai dengan susah payah, pasti nilainya tinggi. Saya ulangi: sesuatu yang dicapai dengan susah payah, pasti nilainya tinggi.

Coba perhatikan, salat sunah apa yang paling berat dilakukan? Pasti salat tahajud. Karena harus tidur terlebih dahulu, lalu bangun di tengah malam untuk melaksanakannya. Apalagi bagi mereka yang rumahnya sederhana, tempat wudhunya di luar rumah, dalam keadaan gelap dan dingin. Sungguh sebuah kesulitan yang luar biasa.

Itulah mengapa dalam syariat Islam, salat sunah yang paling besar ganjarannya adalah salat tahajud. Karena faktor kesulitannya lebih tinggi dibanding salat-salat sunah lainnya. Di samping dikerjakan di malam hari, ia juga harus mengalahkan rasa kantuk yang berat demi melaksanakan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Dalam Islam, ganjaran suatu ibadah dapat dianalogikan dengan olahraga lompat indah. Semakin tinggi tingkat kesulitan yang dilakukan, semakin tinggi pula nilai yang diberikan oleh juri.

Seorang atlet yang terjun dari papan setinggi 10 meter, melakukan putaran dan atraksi di udara, lalu masuk ke air dengan sempurna, nilainya bisa 8 atau 9. Berbeda dengan orang yang langsung terjun biasa dari ketinggian yang sama tanpa atraksi, nilainya paling hanya 6.

Demikian pula dengan sahur. Mana yang lebih enak? Sahur atau tidak sahur? Jelas lebih enak tidak sahur, karena tidak perlu mengganggu tidur nyenyak. Tapi justru di situlah letak keutamaannya. Karena adanya unsur kesulitan dan perjuangan, maka ganjarannya pun lebih besar.

Makanya, sahur termasuk sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam yang sangat dianjurkan. Sebagaimana sabda beliau yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
"'An Anasin radhiyallahu 'anhu qaala: Qaala Rasulullahi ﷺ: Tasahharu fa inna fis sahuri barakah."
Artinya: "Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: 'Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat keberkahan.'" (HR. Bukhari dan Muslim)

Ada hikmah dan berkah yang dapat kita petik dan nikmati dari sahur, terutama bagi mereka yang melakukannya dengan benar sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.

Mudah-mudahan puasa yang kita lakukan dengan penuh kesungguhan ini tidak menjadi puasa yang sia-sia. Jangan sampai puasa kita hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. Kita ingin puasa kita menjadi puasa yang sempurna, sah secara syariat, dan bernilai ganjaran di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Saya ucapkan selamat berbuka puasa dan selamat menunaikan ibadah salat Maghrib. Semoga Allah senantiasa merahmati kita semua.

آخِرُ الْكَلَامِ، وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ وَالْهِدَايَةُ، الْعَفْوَ مِنْكُمْ
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Rudianto Abu Huna
09.00 | 0 komentar | Read More

Puasa Sebagai Ibadah Rahasia Yang Penuh Makna


السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ

أَمَّا بَعْدُ

Para jamaah yang dimuliakan Allah, para pecinta dan simpatisan Forum Kaji Kitab Ruqyah Syar'iyyah, para shoimin dan shoimat, hamba-hamba Allah yang berbahagia.

Alhamdulillah, wa syukurillah, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hingga hari ini, Allah masih memberikan kepercayaan kepada kita untuk dapat menjalankan ibadah puasa dengan diberikan kesehatan. Mudah-mudahan dengan kesehatan ini, kita dapat melaksanakan ibadah shaum kita dengan optimal.

Ibadah puasa memiliki keistimewaan yang membedakannya dengan ibadah-ibadah lain seperti salat, zakat, dan haji. Puasa adalah ibadah sir (rahasia), ibadah yang abstrak dan tersembunyi. Ia berbeda dengan ibadah-ibadah yang bersifat jahar (nyata) yang dapat dilihat oleh mata.

Pertama, ibadah haji. Ibadah haji bersifat konkret. Orang yang hendak berhaji tidak bisa melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Jika ada orang yang ingin berpura-pura berhaji, tentu akan ketahuan. Orang lain pergi ke Mekah, ia pergi ke tempat lain. Orang lain mengelilingi Ka'bah, ia mengelilingi rumah lain. Tidak mungkin, karena akan diketahui. Bahkan, orang yang berangkat haji biasanya diantar oleh sanak saudara dan tetangga hingga satu kampung. Jalanan macet. Ini membuktikan bahwa haji termasuk ibadah jahar, ibadah yang nyata dan tidak dapat disembunyikan.

Kedua, ibadah salat. Salat juga merupakan ibadah yang konkret. Bahkan, sebelum salat, kita mendengar seruan azan yang mengajak orang untuk datang ke masjid dan salat berjamaah. Salat tidak bisa dilakukan secara diam-diam. Gerakan-gerakan salat seperti berdiri, rukuk, dan sujud dapat dilihat oleh orang lain. Orang akan tahu apakah kita salat atau tidak.

Ketiga, ibadah zakat. Demikian pula dengan zakat. Kita tidak mungkin mengeluarkan zakat secara sembunyi-sembunyi. Biasanya, orang-orang yang berhak menerima zakat justru datang berduyun-duyun ke rumah kita, terutama setelah diumumkan melalui ketua RT atau tokoh masyarakat. Zakat tidak bisa dilakukan secara rahasia karena ia ibadah yang bersifat sosial dan nyata.

Berbeda dengan puasa, para shoimin dan shoimat yang berbahagia.

Puasa adalah ibadah yang abstrak. Tidak ada seorang pun yang tahu dengan pasti apakah kita benar-benar berpuasa atau tidak. Mungkin ada yang berkata, "Orang yang berbuka itu kan ramai-ramai, jadi ketahuan." Namun perlu kita pahami, berbuka bukanlah puasa. Begitu pula dengan sahur. Apakah setiap orang yang sahur pasti berpuasa? Demikian juga dengan orang yang berbuka, apakah setiap orang yang berbuka berarti ia berpuasa?

Jika kita merujuk pada definisi puasa secara syar'i, puasa adalah menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami-istri, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Tidak disebutkan di dalamnya tentang berbuka dan sahur. Orang bisa berbuka tapi tidak berpuasa. Orang bisa sahur tapi tidak berpuasa. Namun, menahan diri dari makan dan minum dari subuh hingga maghrib adalah sesuatu yang tidak dapat diketahui oleh siapa pun, kecuali diri kita sendiri dan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Andaikata ketika kita berwudu di waktu dzuhur, kita sengaja menelan setetes air, maka:

  • Presiden tidak akan tahu.

  • Para menteri tidak akan tahu.

  • Gubernur tidak akan tahu.

  • Jenderal tidak akan tahu.

  • Ketua RT dan RW pun tidak akan tahu.

Yang tahu hanyalah kita dan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Inilah hakikat bahwa puasa adalah ibadah sir, ibadah yang tersembunyi, yang hanya diketahui oleh Allah dan hamba-Nya yang bersangkutan.

Lalu, mengapa kita tidak melakukannya? Mengapa di waktu dzuhur, ketika kita berwudu, kita tidak menelan setetes air pun untuk melepas dahaga? Karena kita meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah Maha Melihat. Keyakinan inilah yang menjadikan puasa kita terjaga.

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ
"Ya'lamu khaa-inatal a'yuni wa maa tukhfish shudur."
Artinya: "Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati." (QS. Ghafir: 19)

Namun, sayangnya, sifat muraqabah (merasa diawasi oleh Allah) ini seringkali hanya tertanam kuat saat bulan Ramadan. Di bulan ini, kita sangat menjaga puasa karena yakin Allah Maha Melihat. Alangkah indahnya jika didikan Ramadan ini dapat kita bawa ke luar Ramadan. Karena hidup yang terbaik bukanlah hidup yang benar hanya di bulan Ramadan, tetapi hidup yang benar di atas 12 bulan, sepanjang tahun.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa merahmati kita, menjaga kita, dan menanamkan keimanan yang mendalam dalam hati kita, bahwa sesungguhnya hidup ini tujuan utamanya adalah untuk mengabdi kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, di antaranya dengan menjalankan ibadah puasa dengan penuh keikhlasan.

Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga Allah menerima amal ibadah puasa kita.

آخِرُ الْكَلَامِ، وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ وَالْهِدَايَةُ، الْعَفْوَ مِنْكُمْ
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Rudianto Abu Huna

08.53 | 0 komentar | Read More

Sunah-Sunah Berbuka yang Sering Terlupakan


 السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى هَٰذَا النَّبِيِّ الْكَرِيمِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

أَمَّا بَعْدُ

Saudara-saudaraku, sahabat-sahabatku yang budiman di mana pun berada, terutama para shoimin dan shoimat, hamba-hamba Allah yang berbahagia.

Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang senantiasa memberikan kita kenikmatan dalam menjalani hidup ini, baik kenikmatan lahir maupun kenikmatan batin. Termasuk di dalamnya adalah nikmat kesehatan, yang merupakan modal dasar dan utama dalam menjalankan ibadah shaum atau puasa Ramadan ini. Tanpa kesehatan, mustahil kita dapat melaksanakan ibadah puasa yang menuntut kesegaran dan vitalitas. Oleh karena itu, dalam syariat Islam, orang-orang yang sakit diberikan keringanan untuk tidak berpuasa dan menggantinya di hari lain.

Para shoimin dan shoimat yang berbahagia.

Agar puasa kita menjadi sempurna, perlu kita perhatikan hal-hal yang menjadi nilai tambah dalam ibadah ini. Nilai tambah tersebut tentu terdapat dalam sunah-sunah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Dengan meneladani beliau, puasa yang kita lakukan tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi benar-benar menjadi puasa yang mencapai sasarannya.

Berikut ini adalah beberapa sunah puasa yang perlu kita perhatikan:

Pertama: Menyegerakan Berbuka (Ta'jil al-Fithr)

Kita semua dianjurkan untuk menyegerakan berbuka puasa ketika waktunya tiba. Hal ini merupakan salah satu sunah penting dalam ibadah puasa. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim:

لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
"Laa yazaalun naasu bikhairin maa 'ajjalul fithrah."
Artinya: "Senantiasa manusia berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka." (HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi, orang yang menyegerakan berbuka mendapatkan nilai tambah berupa pahala sunah. Janganlah kita mengakhirkan berbuka tanpa alasan yang syar'i. Jika menggunakan logika, mungkin ada yang berpikir bahwa menunda berbuka lebih besar pahalanya karena menambah rasa lapar. Namun dalam syariat Islam, ganjaran tidak semata-mata berdasarkan logika, melainkan mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.

Kedua: Berbuka dengan Kurma atau yang Manis

Sunah berikutnya adalah berbuka dengan kurma atau sesuatu yang manis, atau dengan air. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi:

عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يُفْطِرُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَى رُطَبَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ فَتُمَيْرَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ
"'An Anasin, annan nabiyya ﷺ kaana yufthiru qabla an yushalliya 'alaa ruthabaatin, fa illam takun fatamaraatin, fa illam takun hasaa hasawaatin min maa'in."
Artinya: "Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ biasa berbuka dengan beberapa butir kurma basah (ruthab) sebelum melaksanakan salat Maghrib. Jika tidak ada, maka dengan kurma kering (tamar). Jika tidak ada, beliau meneguk beberapa teguk air." (HR. Abu Dawud, Turmudzi, dan Ahmad)

Dari sisi kesehatan, hal ini pun telah diakui oleh ilmu kedokteran. Ketika energi kita terkuras setelah seharian berpuasa, maka asupan yang manis dapat dengan cepat mengembalikan energi. Islam, melalui sunah ini, telah membuktikan bahwa ajarannya selaras dengan ilmu pengetahuan dan tidak bertentangan dengan kesehatan.

Ketiga: Berdoa Ketika Berbuka

Berbuka puasa tanpa berdoa tetaplah sah, demikian pula tanpa menyegerakan atau tanpa kurma, puasa tetap sah. Namun, untuk meraih kesempurnaan, kita dianjurkan untuk berdoa. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan doa berbuka, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
Dalam riwayat lain disebutkan:

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ
"Allahumma laka shumtu wa 'alaa rizqika afthartu."
Artinya: "Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, dan dengan rezeki pemberian-Mu aku berbuka."

Atau doa yang lebih lengkap:

ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
"Dzahabazh zhama'u wabtallatil 'uruuqu wa tsabatal ajru insyaa Allah."
Artinya: "Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan, insya Allah." (HR. Abu Dawud)

Demikianlah beberapa amalan sunah yang perlu kita perhatikan dalam menjalankan ibadah puasa. Dengan menjalankan sunah-sunah ini, semoga puasa kita benar-benar mencapai sasarannya, baik sebagai bentuk penghambaan kepada Allah (hablum minallah) maupun sebagai latihan yang dapat meningkatkan kualitas kesehatan jasmani dan rohani kita. Tentu, dengan mengamalkan sunah-sunah Rasulullah, nilai puasa kita akan lebih tinggi, pahala kita akan berlipat ganda, dan tabungan amal kita di bulan Ramadan yang penuh berkah ini akan semakin banyak.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan puasa kita sebagai puasa yang diterima, puasa yang mencapai sasarannya, yaitu untuk mengangkat derajat kita menjadi hamba-hamba yang bertakwa.

Selamat menjalankan ibadah puasa. Semoga rahmat Allah senantiasa menyertai kita.

آخِرُ الْكَلَامِ، وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ وَالْهِدَايَةُ، الْعَفْوَ مِنْكُمْ
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Rudianto Abu Huna
08.44 | 0 komentar | Read More
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...